Breaking News

maritim
Tampilkan postingan dengan label pal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pal. Tampilkan semua postingan

Layakkah Indonesia Meniru Kapal Induk Drone Shaheed Beheshti Iran yang Dikonversi dari Kapal Kargo?

peace     10.35    

ACDI
-- **** Kapal induk drone *Shaheed Beheshti* milik Iran, yang dikonversi dari kapal kargo komersial, menjadi sorotan dunia karena inovasinya dalam memanfaatkan teknologi drone untuk pertahanan maritim. Konsep ini dianggap sebagai solusi hemat biaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritim. Lantas, layakkah Indonesia meniru konsep serupa? Berikut analisis mendalam mengenai potensi, kelebihan, tantangan, dan rekomendasi untuk Indonesia jika memutuskan untuk mengadopsi ide ini.

---

### **1. Apa Itu Kapal Induk Drone Shaheed Beheshti?**
*Shaheed Beheshti* adalah kapal induk drone milik Iran yang awalnya merupakan kapal kargo komersial. Kapal ini dikonversi menjadi platform operasi drone militer, dilengkapi dengan sistem peluncuran dan pengendalian drone untuk misi pengintaian, serangan, dan pertahanan. Konsep ini dianggap sebagai solusi hemat biaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritim.

---

### **2. Kelebihan Konsep Shaheed Beheshti untuk Indonesia**

#### **a. Biaya Lebih Terjangkau**
- Dibandingkan membangun kapal induk konvensional, mengonversi kapal kargo menjadi kapal induk drone jauh lebih murah. Ini cocok untuk Indonesia yang memiliki anggaran pertahanan terbatas.

#### **b. Fleksibilitas Operasional**
- Kapal induk drone dapat digunakan untuk berbagai misi, seperti pengintaian, patroli maritim, dan serangan presisi, tanpa memerlukan awak pesawat tempur.

#### **c. Mendukung Kemandirian Alutsista**
- Indonesia dapat memanfaatkan industri galangan kapal dalam negeri untuk mengonversi kapal kargo, sekaligus mendorong pengembangan teknologi drone lokal.

#### **d. Cocok untuk Wilayah Maritim Indonesia**
- Dengan 17.000 pulau dan perairan yang luas, kapal induk drone dapat menjadi alat efektif untuk mengawasi dan melindungi wilayah maritim Indonesia.

#### **e. Mengurangi Ketergantungan pada Pesawat Tempur**
- Drone dapat melakukan misi berisiko tinggi tanpa membahayakan nyawa pilot, sekaligus mengurangi biaya operasional pesawat tempur.

---

### **3. Tantangan dan Kekurangan Konsep Shaheed Beheshti untuk Indonesia**

#### **a. Keterbatasan Teknologi Drone**
- Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan drone militer canggih, terutama yang mampu dioperasikan dari kapal induk.

#### **b. Kebutuhan Pelatihan dan Sumber Daya Manusia**
- Operasional kapal induk drone membutuhkan tenaga ahli dalam bidang teknologi drone, sistem komunikasi, dan pertahanan maritim.

#### **c. Risiko Keamanan**
- Kapal induk drone rentan terhadap serangan siber dan elektronik, yang dapat melumpuhkan sistem pengendalian drone.

#### **d. Ketergantungan pada Komponen Impor**
- Meski kapal kargo dapat dikonversi di dalam negeri, komponen seperti sistem drone, radar, dan persenjataan mungkin masih harus diimpor.

#### **e. Tantangan Diplomasi**
- Memiliki kapal induk drone dapat memicu kekhawatiran negara tetangga, terutama yang memiliki sengketa wilayah dengan Indonesia.

---

### **4. Potensi Pemanfaatan di Indonesia**

#### **a. Pengawasan dan Patroli Maritim**
- Kapal induk drone dapat digunakan untuk memantau aktivitas ilegal seperti pencurian ikan, penyelundupan, dan pembajakan di perairan Indonesia.

#### **b. Operasi Bencana Alam**
- Drone dapat dikerahkan untuk misi pencarian dan penyelamatan, pemetaan wilayah bencana, serta pengiriman bantuan logistik.

#### **c. Dukungan untuk Poros Maritim Dunia**
- Kapal induk drone dapat menjadi simbol komitmen Indonesia dalam mewujudkan visi Poros Maritim Dunia.

---

### **5. Studi Kasus: Iran dan Shaheed Beheshti**
Iran berhasil mengonversi kapal kargo menjadi kapal induk drone dengan biaya relatif rendah, menunjukkan bahwa konsep ini layak dipertimbangkan. Namun, Iran juga memiliki keunggulan dalam pengembangan teknologi drone militer, yang belum sepenuhnya dimiliki Indonesia.

---

### **6. Rekomendasi untuk Indonesia**

#### **a. Kolaborasi dengan Industri Lokal**
- Pemerintah dapat bekerja sama dengan industri galangan kapal dan startup teknologi untuk mengembangkan kapal induk drone.

#### **b. Investasi dalam Riset dan Pengembangan**
- Indonesia perlu meningkatkan investasi dalam riset dan pengembangan teknologi drone dan sistem pertahanan maritim.

#### **c. Pelatihan Sumber Daya Manusia**
- Membangun pusat pelatihan khusus untuk mengembangkan keahlian dalam operasional kapal induk drone.

#### **d. Diplomasi dan Transparansi**
- Indonesia perlu menjelaskan tujuan pembangunan kapal induk drone kepada komunitas internasional untuk menghindari kesalahpahaman.

---

### **7. Kesimpulan**
Konsep kapal induk drone seperti *Shaheed Beheshti* layak dipertimbangkan oleh Indonesia, terutama karena biayanya yang lebih terjangkau dan potensinya untuk memperkuat pertahanan maritim. Namun, Indonesia perlu mengatasi tantangan dalam hal teknologi, sumber daya manusia, dan diplomasi. Dengan perencanaan matang dan kolaborasi yang baik, kapal induk drone dapat menjadi aset strategis yang mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Dibuat oleh AI

KRI Kerambit 627 Dilengkapi Persenjataan Canggih SEWACO

peace     17.13    
ilustrasi


ACDI -- PT PAL Indonesia (Persero) melakukan prosesi serah terima kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) berukuran 60 meter yang diberi nama KRI Kerambit 627 kepada Kementerian Pertahanan di Dermaga Ujung Surabaya, Kamis (25/7). Penyerahan KRI Kerambit 627 dilakukan oleh Direktur Utama PT. PAL Indonesia Budiman Saleh, yang diterima langsung oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Direktur Utama PT. PAL Indonesia Budiman Saleh menjabarkan, KRI Kerambit 627 memiliki spesifikasi panjang 60 meter, lebar 8,10 meter, dan berat 4,67 ton. Kapal tersebut memiliki kecepatan maksimal 28 knots, dengan kecepatan jelajah 20 knots, serta mampu berlayar dengan endurance selama 4-5 hari.

"Pembangunan kapal KCR 60 meter Kerambit ini terdiri atas dua tahap kontrak. Yaitu tahap pertama adalah kontrak platform yang telah kami selesaikan 100 persen pengerjaannya pada 13 Juli 2018. Tahap kedua adalah kontrak pengembangan plafon yang sesaat lagi akan kami serah terimakan dengan penyelesaian tepat waktu," kata Budiman. Selanjutnya, kata Budiman, pada kapal KCR Kerambit akan dilaksanakan kegiatan pemasangan Sensor Weapon Control (SEWACO).

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, kapal KCR Kerambit merupakan bagian dari konsep pembangunan kekuatan pertahanan dalam strategi pertahanan negara, menuju kemandirian industri pertahanan. Saat ini, kata Ryamizard, total kapal KCR 60 meter yang telah memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut sebanyak 4 unit.

"Kemudian masih ada dua KCR lainnya yang mulai dikerjakan oleh PT PAL Indonesia. Diharapkan pada 2002 PT PAL Indonesia dapat menyelesaikan seluruh pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk kapal KCR 60 meter," ujar Ryamizard.

Ryamizard mengungkapkan, KCR Kerambit nantinya akan dilengkapi persenjataan terbaru SEWACO yang kontraknya sudah ditandatangani antara PT PAL dengan Kemenhan. Sehingga KCR Kerambit nantinya memiliki fungsi asasi sebagai kapal kombatan, yang diharapkan mampu mendukung pertahanan di perairan Indonesia.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji mengatakan, setelah diserahkan dari Kemenhan ke TNI AL, KCR Kerambit nantinya akan dioperasikan di Komando Armada I. KCR Kerambit nantinya akan memperkuat pertahanan di perairan Indonesia, tepatnya di wilayah barat.

"KRI Kerambit nanti akan memulai untuk operasional armada I di wilayah barat. KCR ini dibanding yang sebelumnya lebih canggih dari sisi combat manajemen system, dan juga persenjataannya," ujar Siwi.

More

PT PAL Telah Mendapatkan Pembuatan 2 Pesanan Kapal Selam dari TNI

peace     17.03    
Direktur Utama PT PAL Harsusanto mengatakan, hingga 2014 telah mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan dan TNI AL untuk membuat beberapa kapal.

Diantaranya, dua kapal selam, dua kapal perusak kawal rudal (PKR), 11 unit KCR-40, tujuh unit kapal angkut tank (AT/LST), 17 unit tank amfibi, dan 25 unit peningkatan kemampuan kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut.

HUT Kolinlami dihadiri Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksda TNI Marsetio, Komandan Lantamal III Jakarta Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul, Kepala Staf Armabar Laksma TNI Didit Herdiawan dan beberapa mantan Panglima Kolinlamil, sepert Laksda (Purn) R Ompusunggu, Laksda (Purn) Bambang S dan Laksda (Purn) JFA Manengke.

More

Indonesia Bangun Kapal Kombatan

peace     04.14    
Indonesia akan membangun kapal perang jenis kombatan untuk mengawal perairan di kawasan timur. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memaparkan, pengadaan kapal tersebut untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan di Indonesia.

Hal itu disampaikan Purnomo usai menerima penghargaan Bintang Yudha Dharma Utama dari Presiden di Jakarta, Kamis (1/7). Ia menjelaskan, saat ini Kementerian Pertahanan masih terus melakukan persiapan untuk melakukan pembangunan kapal perang tempur yang akan dilaksanakan di PT PAL Surabaya.

"Dalam waktu satu sampai dua bulan ini, kami persiapkan untuk membangun kapal perang kombatan terbesar yang kita punya," ujarnya. Kapal tersebut kelak akan ditempatkan untuk menjaga perairan kawasan timur Indonesia yang memiliki perairan terbuka yang luas.

Di tempat terpisah, Panglima Komando Lintas Militer (Kolinlamil) Laksamana Muda TNI Slamet Sulistiyono mengungkapkan, pihaknya memensiunkan enam kapal tua jenis angkut tank (landing ship tank).

"Enam kapal tank buatan Amerika tersebut rata-rata usianya 64 sampai 70 tahun. Meski sebenarnya masih cukup terawat, namun sudah waktunya untuk diganti," tuturnya usai upacara peringatan HUT ke-49 Kolinlamil di Markas Kolinlamil, Tanjug Priok, Jakarta.

Menurut Slamet, penghapusan kapal tua tersebut merupakan bagian dari kebijakan pembangunan menuju kekuatan pokok minimum TNI AL. Untuk pengadaan kapal baru saat ini masih dalam tahap perencanaan.

Kegiatan operasi pengamanan laut terus meningkat dari hari ke hari dan itu diperlukan dukungan alutsista yang memadai

peace     15.46    
Jajaran TNI Angkatan Laut terus berupaya melengkapi kebutuhan alutsista guna mendukung tugas operasi pengamanan laut dan wilayah perairan Indonesia.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Among Margono kepada wartawan di Surabaya, Rabu (16/6), mengatakan, penambahan alat utama sistem senjata (alutsista) di lingkungan TNI AL disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia.

"Kegiatan operasi pengamanan laut terus meningkat dari hari ke hari dan itu diperlukan dukungan alutsista yang memadai," katanya seusai memimpin gelar admiral inspection di Markas Koarmatim di Dermaga Ujung, Surabaya.

Among Margono mengemukakan, Mabes TNI AL telah menyusun rencana strategis jangka panjang selama lima tahun ke depan, termasuk di dalamnya pengadaan sejumlah alutsista baru. "Sejumlah alutsista itu, seperti pengadaan dua unit kapal selam pada 2014, sejumlah kapal tempur dan pesawat udara. Pengadaan itu untuk mengganti alutsista lama yang sudah tidak digunakan," ujarnya.

Untuk pengadaan kapal perang, lanjut Pangarmatim, Mabes TNI bekerja sama dengan PT PAL, sementara untuk pesawat udara dengan PT Dirgantara Indonesia. Gelar admiral inspection atau inspeksi laut merupakan salah satu tradisi yang dilakukan menjelang pergantian Kepala Staf TNI AL maupun Panglima Komando Armada RI.

Kegiatan tersebut menjadi ajang perpisahan pimpinan TNI AL dengan para prajurit, sekaligus memperkenalkan pimpinan yang baru. Dalam kegiatan itu, Pangarmatim Laksda TNI Among Margono, yang didampingi calon penggantinya Laksda TNI Bambang Suwarto, melakukan inspeksi kapal perang dan prajurit dengan menggunakan Kapal Perang RI Mulga-832.

Serah terima jabatan Pangarmatim dijadwalkan berlangsung pada Jumat (18/6) dan dipimpin langsung Kasal Laksamana TNI Agus Suhartono. Laksda TNI Among Margono yang baru menjabat Pangarmatim pada awal Maret 2010 selanjutnya mendapat promosi jabatan sebagai Asisten Perencanaan (Asrena) Kasal di Markas Besar TNI AL.

PAL INDONESIA LUNCURKAN KAPAL CHEMICAL TANKER, PESANAN ITALIA

peace     10.41    
Ditengah perusahaan menghadapi kesulitan keuangan PAL INDONESIA mampu meluncurkan Kapal Chemical Tanker 6200 DWT, Pesanaan Mediterania di Navigazione SpA Italia. Kamis 03 September 2009 ; 10.00 WIB, pada saat air laut pasang tertinggi bertempat di dermaga divisi kapal perang. Hal tersebut membuktikan bahwa PAL INDONESIA mempunyai komitmen yang tinggi untuk memberikan yang terbaik kepada pelangganya. Kapal Chemical Tanker 6200 DWT ini merupakan kapal pertama yang di bangun di galangan dalam negeri karena kapal ini di rancang khusus untuk mengangkut bahan-bahan kimia dan material yang di pakai juga menggunakan bahan khusus yaitu super duplex. Menurut jadwal kapal ini akan di serahkan pada medio Pebruari 2010.

Metode peluncuran ini, sangat berbeda dengan metode peluncuran yang telah dilakukan galangan kapal terkemuka di dunia pada umumnya. Di galangan kapal negara maju, pada umumnya peluncuran kapal berukuran besar masih menggunakan rel dan crudle-crudle yang disiapkan pada lahan secara permanen. Sementara metode yang diterapkan oleh PAL INDONESIA menggunakan bantalan kayu yang bisa dibongkar dan dipasang ulang (Knock Down) pada lahan-lahan terbatas, sehingga bisa dilakukan secara berulang-ulang dengan tingkat biaya lebih rendah.

“Temuan ini bermula saat PT. PAL INDONESIA (PERSERO) kebanjiran order kapal pada 1998 Sementara dock space yang tersedia sudah terisi penuh sehingga mendorong PAL INDONESIA untuk mencari terobosan baru dengan memanfaatkan seluruh kemampuan yang ada, dan dalam PAL INDONESIA bekerjasama dengan ahli-ahli perkapalan ITS, membuat simulasi dan kalkulasi secara terus menerus dengan mngembangkan cara tradisional di padukan dengan perhitungan modern, yang menghasilkan metode peluncuran Side Launching dan End Launching. Dimana metode ini bisa di gunakan untuk membangun kapal dengan skala besar dengan biaya yang relative murah dan bisa di kembangkan dimana saja.

Sebelumnya, melalui metode yang sama, PT. PAL INDONESIA (PERSERO) telah berhasil melakukan peluncuran di antaranya ; Kapal Tanker 17.500 LDWT, Palwo Buwono 400 TEUS, Palwo Buwono 1600 TEUS, Floating Production Unit (FPU) dan Caraka Jaya 4.200 DWT, dan seterusnya sampai pada Chemical Tanker 6200 DWT, merupakan peluncuran yang ke sepuluh.

Keberhasilan PT. PAL INDONESIA (PERSERO) menemukan metode peluncuran di lahan sempit dan perairan terbatas, telah mendorong PAL INDONESIA untuk menyebar luaskan menjadi paket inovasi khususnya bagi daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan industri perkapalan dan galangan-galangan nasional yang membutuhkan.

Setidaknya ada beberapa kelebihan dari penerapan teknologi peluncuran semacam ini, yaitu :

* Peluncuran dapat dilakukan meskipun di daerah yang memiliki lahan dan perairan terbatas. Setelah peluncuran, area yang digunakan dapat dibersihkan kembali seperti semula.
* Peluncuran dapat dilakukan di daerah yang dikehendaki pihak pemesan
* Tidak memerlukan investasi besar untuk membangun fasilitas pembangunan kapal.
* Dapat diaplikasikan untuk pembangunan kapal-kapal skala besar.
* Metode peluncuran telah di buktikan oleh PAL INDONESIA sebanyak sembilan kali dan terbukti aman. Untuk itu sangat layak dipakai sebagai acuan untuk pembangunan kapal dengan metode peluncuran ini:

Ukuran Utama Kapal Chemical Tanker 6200 DWT

* Panjang Keseluruhan : 100,00 m
* Panjang Antara Garis Tegak : 95,00.m
* Lebar : 16,98.m
* Tinggi Dek Utama : 8,60 m
* Sarat Air : 6,80 m
* Kecepatan : 14,00 knot
* Crew : 16 + 2

Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium ke 3 Pesanan Ditjen Bea & Cukai

peace     10.38    
Direktorat Jenderal Bea & Cukai kembali menerima Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium BC30003, kapal ke tiga dari tiga kapal yang dipesan dari PT PAL INDONESIA (Persero) yang pembangunanya telah mendapatkan dukungan pembiayaan dari Islamic Development Bank (IDB) untuk kemudian dioperasikan di Pangkalan Sarana Operasi Bea & Cukai Pantoloan, Palu - Sulawesi Tengah.

Thomas Sugijata, Direktur Jenderal Bea & Cukai Departemen Keuangan, menyampaikan saat peresmian pemberangkatan kapal di Dermaga Divisi Kapal Perang PT PAL INDONESIA (Persero), Kamis tanggal 1 April 2010, bahwa untuk masa kini dan mendatang tantangan tugas jajaran Ditjen Bea & Cukai semakin kompleks. Beban dan tugas dalam melaksanakan pengawasan penindakan dan penyidikan terhadap penyelundupan dan kegiatan perdagangan atau aktivitas illegal lainnya di laut terbuka semakin berat, terlebih lagi dengan luasnya perairan Indonesia yang mempunyai garis pantai lebih dari delapan puluh satu ribu kilo meter.

Oleh karenanya, upaya dari Departemen Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Bea & Cukai yakni secara bertahap melakukan penguatan dan peremajaan armada kapal patroli dalam rangka menjawab tantangan tersebut diatas. Yaitu mencegah penyelundupan di laut yang modus operandinya semakin beragam, serta luasnya wilayah yang rawan terhadap masuknya barang-barang illegal ke wilayah Indonesia melalui pantai memerlukan pengawasan sehingga dibutuhkan sarana pendukung Armada Patroli yang kuat guna memantau aktivitas perdagangan di banyak titik strategis.

Kapal Patroli ini merupakan jenis FPB 38 meter Aluminium yang rancang bangunnya dilaksanakan sendiri oleh PT PAL INDONESIA (Indonesia), hal ini merupakan bukti bahwa putra-putri bangsa sendiri telah mampu menguasai teknologi perkapalan yang tidak kalah dari karya bangsa lain.

Adapun ukuran utama Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium ini sbb :
Panjang keseluruhan : 42.00 meter
Panjang garis air : 38.00 meter
Lebar : 7.30 meter
Tinggi : 4,47 meter
Sarat air kekuatan : 1.85 meter
Sarat air desain : 1.65 meter
Kecepatan maks. : 33.00 Knots
Compliment : 25 Orang.

Terbaru

Defense

BCAS

Local

TSCFWA

Regional

Global

© 2011-2014 ACDI. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.