Breaking News

maritim

Lonjakan Permintaan JF-17 Global, Pakistan Kewalahan?

peace     15.46    

Dorongan untuk memperkuat kapasitas produksi pesawat tempur JF-17 Thunder Pakistan semakin menguat seiring lonjakan minat dan pesanan dari berbagai negara. Industri dirgantara Pakistan kini menghadapi tantangan baru karena kapasitas produksi tahunan yang masih terbatas.

Saat ini, produksi JF-17 berada di kisaran sekitar 25 unit per tahun. Angka tersebut dinilai belum memadai untuk menjawab kebutuhan pasar internasional yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Permintaan besar datang dari Libya dan Arab Saudi, yang masing-masing disebut-sebut menyiapkan paket pemesanan bernilai sekitar 4 miliar dolar AS. Nilai kontrak tersebut berpotensi mencakup pesawat, persenjataan, pelatihan, serta dukungan logistik jangka panjang.

Jika kedua kontrak tersebut terealisasi dalam waktu berdekatan, lini produksi JF-17 akan menghadapi antrean panjang. Hal ini mendorong munculnya wacana peningkatan kapasitas produksi melalui investasi fasilitas dan sumber daya manusia.

Minat juga datang dari Irak, yang belakangan memperlihatkan ketertarikan serius terhadap JF-17 Thunder. Ketertarikan ini muncul dalam konteks penguatan hubungan pertahanan antara Islamabad dan Baghdad.

Kunjungan resmi Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan, Air Chief Marshal Zaheer Ahmed Baber Sidhu, ke Irak menjadi momentum penting. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu langsung dengan Panglima Angkatan Udara Irak, Letnan Jenderal Mohanad Ghalib Mohammed Radi Al-Asadi.

Kepala Staf AU Pakistan bahkan menerima penghormatan militer di markas Angkatan Udara Irak. Upacara tersebut mencerminkan eratnya hubungan dan saling menghormati antara kedua angkatan udara.

Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada peningkatan kerja sama militer bilateral. Isu pelatihan bersama, pembangunan kapasitas, dan peningkatan interoperabilitas operasi menjadi agenda utama.
Pihak Pakistan menegaskan komitmennya untuk mendukung Angkatan Udara Irak, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kemampuan operasional. Pengalaman Pakistan dalam mengoperasikan dan mengembangkan JF-17 menjadi nilai tambah tersendiri.

Kepala Staf AU Pakistan juga menyoroti ikatan historis, budaya, dan keagamaan antara Pakistan dan Irak. Narasi ini memperkuat landasan politik bagi kerja sama pertahanan jangka panjang.

Dari pihak Irak, apresiasi disampaikan terhadap profesionalisme dan kemajuan teknologi Angkatan Udara Pakistan. Baghdad melihat Pakistan sebagai mitra yang kredibel dalam pengembangan kekuatan udara.

Ketertarikan Irak tidak hanya tertuju pada JF-17 Thunder, tetapi juga pada pesawat latih Super Mushshak. Hal ini menunjukkan minat menyeluruh, dari pelatihan dasar hingga kemampuan tempur.

Jika Irak menindaklanjuti ketertarikan tersebut menjadi kontrak nyata, antrean produksi JF-17 akan semakin panjang. Situasi ini memperkuat urgensi peningkatan kapasitas manufaktur Pakistan.

Sejumlah pengamat menilai Pakistan perlu mempertimbangkan perluasan lini produksi atau kerja sama subkontrak dengan mitra asing. Langkah ini dapat mempercepat pengiriman tanpa mengorbankan kualitas.

Peningkatan kapasitas juga dipandang strategis untuk menjaga kepercayaan calon pembeli. Negara-negara peminat membutuhkan kepastian jadwal pengiriman di tengah dinamika keamanan regional.

JF-17 sendiri diposisikan sebagai pesawat tempur multirole yang relatif terjangkau, menjadikannya pilihan menarik bagi negara dengan anggaran pertahanan terbatas. Kombinasi harga dan kapabilitas menjadi daya tarik utama.
Lonjakan minat global ini sekaligus menjadi pengakuan atas kematangan industri dirgantara Pakistan. Dari proyek bersama, JF-17 kini berkembang menjadi produk ekspor andalan.

Namun, keberhasilan komersial juga membawa tantangan struktural. Tanpa peningkatan kapasitas, Pakistan berisiko kehilangan momentum di pasar internasional yang kompetitif.

Dorongan untuk memperkuat produksi tidak lagi sekadar wacana industri, melainkan kebutuhan strategis nasional. Keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan menentukan posisi Pakistan di pasar pesawat tempur ringan.

Dengan pesanan potensial bernilai miliaran dolar dan minat berlapis dari Libya, Saudi, dan Irak, JF-17 berada pada titik krusial. Arah pengembangan kapasitas produksi akan menentukan apakah Pakistan mampu menjawab peluang besar tersebut secara berkelanjutan.

0 komentar :

Terbaru

Defense

BCAS

Local

TSCFWA

Regional

Global

© 2011-2014 ACDI. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.